Minggu, 08 April 2012

Resensi Film : AGORA | Kisah Filsuf Perempuan Perpustakaan Alexandria

      
      “Saya Flavius Theodosius Augustus, Kaisar dan kepala tertinggi dari provinsi-provinsi Orient, telah menerima laporan dan peristiwa yang terjadi di kota Alexandria belum lama ini. Dengan ini menyatakan dan memerintahkan agar pelanggar hukum diampuni dan dibebaskan. Sebagai pertukaran dan kemurahan hati saya para pelanggar akan meninggalkan sarapheum dan perpustakaan secepatnya. Memperbolehkan umat Kristen memasuki dan membuang apapun di tempat itu jika dirasa perlu” 


     Mendengar pengumuman Kaisar itu, Theon Kepala Perpustakaan Alexandria dan putrinya Hypatia saling memandang.
Pikiran mereka bertemu pada satu titik:buku. Maka segera sebelum pintu gerbang jebol oleh massa umat Kristen mereka bergegas ke perpustakaan menyelamatkan naskah-naskah dan manuskrip yang bisa diselamatkan. 


      Terlalu sempit waktunya. Terlalu sedikit tenaga untuk mengangkut. Terlalu banyak buku yang mesti diselamatkan. Tak lagi bisa memilah mana yang penting dan yang tidak. Yang nampak oleh mata dan teraih oleh tangan saja yang mampu dibawa serta. Kaum Pagan harus segera menyelamatkan diri. 


      Hypatia, filsuf perempuan Alexandria yang disegani itu hanya mampu menahan amarah dan kesedihan. Perpustakaan tempat ia menabur dan menanam ilmu pengetahuan di ambang kemusnahan. Orang-orang Kristen menerobos masuk ke Sarapheum tempat kaum Pagan bertahan. Mereka menyerang dengan brutal. Menghancurkan apa saja yang mereka tak suka. Termasuk buku-buku sumber ilmu pengetahuan. 


     Di perpustakaan itulah Hypatia biasa mengajar murid-murid dari kalangan elit istana kaum Pagan. Ayahnya sebagai Kepala Perpustakaan Alexandria memberinya hak khusus untuk itu. Hingga karena kecerdasan dan kecantikannya. dua orang laki-laki jatuh cinta padanya: muridnya Oreste dan Davus, budaknya. 


       Saat itu, situasi politik di Alexandria sedang memanas. Umat Kristen menyudutkan kaum Pagan sebagai penyembah berhala yang tak rasional. Kekuasaan Pagan pun tumbang dan Kristen mendominasi. Agora, ruang pertemuan majelis Alexandria pun menjadi incaran kekuasaan. Yahudi dan Pagan terus bertahan melalui negosiasi dan kesepakatan-kesepakatan. 


      Ditengah kesemrawutan politik, Hypatia terlibat dalam posisi netral atas nama kemanusiaan. Ia tak memperdulikan keyakinan beragama, baginya kekerasan tak boleh ada. Meskipun ia seorang perempuan, tapi karena kedudukannya sebagai filsuf, Hypatia sangat dihargai. Ia bisa melihat siapa yang haus kekuasaan dan bersembunyi di balik jubah agama. Orang-orang itu menggunakan segala cara untuk meraih keinginannya. Pun bila harus dengan kekerasan. Dan itu ditentang Hypatia. 


      Dalam pertentangan politik yang meruncing, Hypatia tak hentinya belajar. Ia seorang pemikir dan demikian mencintai matematika pula astronomi. Ia memikirkan terus menerus tentang kebenaran pusat dari jagad raya. Ia tak berhenti berpikir dan mencari kebenaran logika. Hingga kemudian ia menemukan bahwa pergerakan bumi mengelilingi matahari dalam suatu lintasan yang berbentuk elips. Dasar astronomi inilah yang nantinya dikembangkan oleh Galileo Galilei & Johannes Kepler pada abad ke-16 dan 17. 


     Politik selalu berorientasi kemenangan dan penguasaan. Penghalang menuju arah itu akan serta merta disingkirkan. Hypatia dianggap sebagai tokoh yang menghalangi maksud para lelaki haus kekuasaan. Maka ia pun disingkirkan dengan keji. Tubuhnya dimutilasi dan sisanya diseret ke jalan lalu dibakar. Kaum Kristen menuduhnya wanita penyihir, dengan dalih:
     “Surat pertama Paulus kepada Timotius. Oleh karena itu aku ingin supaya dimana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci. Tanpa marah dan tanpa perselisihan. Demikian juga hendaknya perempuan, hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan dikepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara, atau pakaian yang mahal-mahal. Tetapi hendaklah dengan perbuatan baik. Seharusnya perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengijinkan perempuan mengajar, dan juga tidak mengijinkannya mereka memerintah laki-laki. Hendaklah ia berdiam diri.” (Diana AV Sasa)


Judul Film          : Agora
Genre                 : Drama/Sejarah/Romansa
Sutradara           : Alejandro Amenábar
Skenario             : Alejandro Amenábar dan Mateo Gil
Produksi             : Newmarket Films (2009)
Pemain           : Davus (Max Minghella), Oreste (Oscar Isaac), Ammonius (Ashraf  Barhom), Synesius (Rupert Evans), Theon ( Michael Lonsdale), Aspasius (Homayoun Ershadi), Cyril ( Sammy Samir) Hypatia (Rachel Weisz)


Pendapat saya mengenai filim ini :
Dalam filim tersebut Theon Kepala Perpustakaan Alexandria dan putrinya Hypatia merupakan seorang pustakawan yang sangat peduli terhadap buku yang dikelolanya. Saat dalam situasi yang berbahaya atau genting mereka tetap berusaha untuk menyelamatkan bahan pustaka atau koleksi yang ada didalam perpustakaan sebelum perpustakaan tersebut rusak oleh serangan masa kaum Kristen. Meski tidak semua buku terselamatkan tetapi setidkanya ada buku yang bisa digunakan.Pustakawan tersebut mengajarkan kepada para pustakawan lainya untuk menjaga, mengelola, merawat, dan menghargai ataupun melindungi semua bahan pustaka atau buku yang dikelola diperpustakaan dengan baik. Menjaga buku-buku tersebut agar tidak rusak ataupun hilang, karena bahan pustaka/buku tersebut suatu saat pasti akan bermanfaat bagi orang lain.

SUMBER :
http://www.apakabar.ws/content/view/3400/88888889/ diakses tanggal 04/04/2012 pukul 15:04

PERPUSTAKAAN DAN PUSTAKAWAN DI ERA TEKNOLOGI INFORMASI
Pustakawan pada era baru ini tidak lagi hanya mengelola layanan informasi yang berbasis buku  saja,  namun  harus  mulai  berubah  dan  berorientasi  kedepan menjadi  pustakawan  modern  yang dapat  menjembatani  masa  transisi  antara  menyediakan layanan  berbentuk  cetak maupun elektronik disertai kemampuan untuk  mengatur  strategi  penelusuran  secara  cepat dan tepat. Selain itu, pustakawan harus bisa beradaptasi mengikuti tren kepustakawanan yang sedang terjadi seperti adanya gejala  penurunan  peminjaman  koleksi  cetak  di  perpustakaan,  pengelolaan  publikasi  untuk  karya ilmiah mahasiswa, juga tentang konsep pelayanan "one stop service" di perpustakaan. Idealisme pustakawan masa depan akan terwujud apabila pustakawan tidak berhenti belajar untuk meningkatkan kompetensi mereka.
Perpustakaan di era teknologi informasi juga harus menyediakan automasi perpustakaan. Automasi perpustakaan dilakukan untuk mempermudah semua proses-proses kerja yang ada diperpustakaan seperti sirkulasi, statistic, pendaftaran anggota, pencarian informasi dan sebagainya. Selain itu diharapkan dengan adanya automasi perpustakaan pengunjung perpustakaan diharapkan mendapatkan kepuasan dalam pelayanan di perpustakaan dan bisa mengakses informasi di mana saja dan kapan saja.

Keterampilan yang harus dimiliki pustakawan di era global yaitu :
1.    Adaptability : Pustakawan hendaknya cepat berubah menyesuaikan keadaan yang menantang.menurut Feret & Marcinek menyatakan bahwa pustakawan harus  berjalan seirama dengan perubahan teknologi yang terus bergerak maju dan pustakawan harus mampu beradaptasi sebagaipencari dan pemberi informasi dalam bentuk apapun. 
2. People skills : maksud people skill disini yaitu: 

  •  Pemecahan masalah (kreatifitas,pencair konflik).

  • Etika (diplomasi,jujur,professional).

  • Terbuka (Fleksible,terbuka untuk wawasan bisnis,berfikir positif).

  • ”Perayu” (keterampilan berkomunikasi dan mendengar atantif).

  • Kepemimpinan (bertanggung jawab dan mempunyai kemampuan memotivasi).

  • Berminat belajar (haus akan pengetahuan dan perkembangan).

3.    Berfikir positif.
4.    Personal Add Value: Pustakawan memiliki nilai tambah misalnya:menjadi navigator ulung, mendonggeng,dll.
5.    Berwawasan Entrepreneurship : memilki jiwa bisnis atau kewirausahaan untuk menjadikan income(masukan dana) untuk perpustakaan yang dikelolanya.
6.    Teamwork-Sinergi : mamapu berkerjasma dalam tim atau organisasi

3 komentar:

purwanto putrokarto mengatakan...

“Saya po anak'e pak karno, Kaisar dan kepala tertinggi dari mberuk hill, telah menerima laporan dan peristiwa yang terjadi diblog ini. Dengan ini menyatakan dan memerintahkan agar untuk menonton film ini dikarenakan bagus jalan ceritanya.

Read For Fun mengatakan...

jadi tertarik, coba ntar minjem lah

Librarian Blog mengatakan...

makasi mas-masnya :)