Rabu, 27 Juni 2012

Jamur Shiitake


Di Indonesia, budidaya jamur memiliki prospek yang cerah karena kondisi alam dan lingkungan yang sangat mendukung. Jamur konsumsi dari jenis jamur kayu yang memiliki nilai bisnis tinggi serta luas penggunaanya adalah jamur shiitake (Lentinus edodes/ Lentinula edodes). Disebut Jamur shiitake karena kayu yang digunakan untuk budidaya jamur ini di Jepang adalah kayu shii, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai kayu pasang atau kayu saninten.
Dilihat dari morfologinya, shiitake mempunyai tudung seperti paying berwarna kuning kemerahan atau coklat gelap. Lebar tudung bervariasi antara 2,5-9cm dan memiliki selaput kutikula. Pada bagian bawah tudung terdapat lamella (gills, insang) yang berisi spora. Warna tangkai sama seperti warna tudung, hanya sedikit keras. Panjang tangkai 3-9 cm dengan diameter 0,5-1,5 cm.
Di Indonesia , shiitake lebih dikenal sebagai jamur kayu cokelat. Shiitake termasuk jamur kayu, dapat tumbuh pada kayu gelondongan yan sudah kering (bukan lapuk), ataupun pada produk sampingan kayu. Mulai penanaman bibit hingga di panen, budidaya shiitake pada gelondongan kayu memerlukan waktu 6-12 bulan, sedangkan budidaya pada bahan campuran dapat kurang dari 3 bulan. Shiitake sebagai jenis jamur berkhasiat obat dapat langsung dimakan mentah seperti salad atau lalap. Jamur ini juga dapat digunakan sebagai bahan sayur serta makanan olahan lain. Berdasarkan penelitian, ekstrak jamur shiitake memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan tumor antara 72-92%. Oleh karena itu ekstrak jamur ini mulai diarahkan sebagai penghambat tumor atau kanker.
Pada umumnya shiitake digunakan sebagai bahan pangan. Shiitake saat ini menjadi jamur ke-3 terbesar diproduksi di seluruh dunia setelah champignon (Agaricus) dan tiram (Pleurotus).

Tidak ada komentar: